Langsung ke konten utama

Gunung dalam Bingkai Kebudayaan




Dalam pandangan masyarakat Sunda, alam bukan sekadar ruang hidup, tetapi ruang suci tempat manusia menempuh jalan kesadaran. Gunung, hutan, dan sungai adalah poros kosmos, tempat manusia belajar menakar diri, menyatu dengan ritme semesta, dan menegakkan keseimbangan batin.

Dalam naskah Amanat Galunggung, ajaran Patanjala disebut sebagai dasar kasampurnaan hirup: kesempurnaan hidup yang hanya mungkin tercapai bila manusia selaras dengan alam dan Hyang.
Dalam naskah Amanat Galunggung tertulis:
Hirup kudu nyaluyukeun jeung jagat, ulah ngalanggar kana tatanan buana.”
— Amanat Galunggung (abad ke-15)
Ungkapan ini menunjukkan bahwa manusia tidak hidup di atas alam, tetapi di dalamnya. Patanjala mengajarkan keseimbangan yang membentuk tubuh manusia sekaligus tubuh jagat. Merusak satu unsur berarti merusak diri sendiri.

Etika Patanjala bukan dogma, melainkan laku spiritual yang berpijak pada kesadaran ekologis. Menebang pohon tanpa doa, mencemari air tanpa rasa bersalah, atau menaklukkan gunung tanpa hormat, dianggap pelanggaran terhadap hukum kosmos.
Karena itu, masyarakat Sunda mengenal konsep mamala, pamali (pantangan moral) dan sebagainya sebagai cara menjaga harmoni antara dunia lahir dan batin.
Gunung dalam konteks Patanjala atau kebudayaan Sunda menjadi simbol naiknya kesadaran, jalan sunyi menuju keseimbangan antara raga, cipta, dan rasa.
Ia guru tanpa sabda, tempat manusia belajar menjadi bagian dari kehidupan, bukan penguasanya.

Kini, ketika alam dilihat sebagai sumber daya semata, makna gunung meredup dalam kesadaran kolektif kita.
Padahal ajaran itu sejatinya mengingatkan: kesempurnaan hidup tidak datang dari menguasai bumi, tetapi dari kemampuan menata diri agar selaras dengan bumi.
Menghidupkan kembali konsep Patanjala berarti mengembalikan etika ekologis Nusantara, menempatkan alam atau gunung bukan sebagai objek fisik semata, melainkan subjek kebijaksanaan.

Karena dalam kebudayaan, menjaga alam sama artinya dengan menjaga jalan menuju kesempurnaan hirup.
Dengan semangat itulah, Gunung Institute memandang alam terutama gunung bukan sekadar bentang geografis, melainkan arsip hidup peradaban. Di setiap lereng, alur air, dan lapisan tanah, tersimpan pengetahuan yang tidak ditulis dengan tinta, tetapi dengan laku dan waktu. Gunung menyimpan ingatan kolektif tentang bagaimana manusia dahulu menempatkan diri: tidak di pusat, tidak pula di puncak, melainkan sebagai bagian kecil dari jejaring kehidupan yang saling menopang.

Dalam perspektif ini, krisis ekologis hari ini tidak semata persoalan teknis atau kebijakan, melainkan krisis kesadaran. Ketika gunung dipandang hanya sebagai cadangan mineral, hutan sebagai komoditas kayu, dan sungai sebagai saluran limbah, yang sesungguhnya runtuh adalah cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri. Patanjala mengingatkan bahwa kerusakan alam selalu beriringan dengan keretakan batin; hilangnya keseimbangan jagat adalah cermin dari ketidakteraturan rasa dan cipta manusia.
Gunung Institute membaca ulang ajaran-ajaran lama seperti Patanjala bukan sebagai romantisme masa silam, melainkan sebagai fondasi etika masa depan. Di tengah percepatan industri dan logika ekstraksi, pengetahuan lokal menawarkan jeda: ruang untuk kembali bertanya, sejauh mana pembangunan masih sejalan dengan tatanan buana. Di sinilah gunung berfungsi sebagai penanda batas-batas keserakahan, batas keberanian, sekaligus batas kebijaksanaan.

Menjaga gunung berarti menjaga sumber air, iklim lokal, dan keanekaragaman hayati. Namun lebih dari itu, menjaga gunung adalah menjaga orientasi moral manusia. Ketika masyarakat diajak kembali memahami pamali dan mamala bukan sebagai larangan irasional, melainkan sebagai kode etik ekologis, maka relasi manusia–alam beralih dari relasi kuasa menjadi relasi tanggung jawab.

Gunung Institute percaya bahwa masa depan tidak hanya dibangun dengan teknologi dan data, tetapi juga dengan ingatan budaya dan kebijaksanaan ekologis. Patanjala memberi kita bahasa untuk merumuskan ulang hubungan itu: bahasa yang menautkan raga dengan tanah, rasa dengan hutan, dan kesadaran dengan semesta. Dari sana, jalan menuju kasampurnaan hirup bukanlah jalan menaklukkan alam, melainkan jalan panjang untuk kembali mendengarkan, merawat, dan menempatkan diri secara arif di dalam jagat raya.


 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA YANG HARUS/BISA KITA LAKUKAN UNTUK GUNUNG

Dalam posting “apa dan siapa gunung”, @gununginstitut memaparkan rangkuman definisi serta konsep perihal gunung, baik secara morfologis (bentuk), ekologis (lingkungan), hingga filosofis (sebagai sesama makhluk tuhan). Simpulan yang dapat diambil dari pemaparan di posting pertama adalah betapa pentingnya keberadaan dan kelestarian gunung bagi manusia dan totalitas alam lainnya di bumi. Kebudayaan di nusantara umumnya dan Sunda khususnya memandang gunung sebagai suatu hal yang “sakral", pandangan tersebut membawa gunung pada kondisi yang sangat dihargai, dirawat, dan diagungkan. Sakralitas gunung dilandasi dari pengetahuan masyarakat yang menganggap gunung sebagai bagian dari kehidupan yang sama-sama memiliki hak sebagaimana manusia. Maka dari itu, masyarakat Sunda khususnya Baduy (misalnya), mengenal pengetahuan tentang hak alam berupa leuweung larang , di mana manusia dibatasi dalam pemanfaatan dan bahkan terlarang untuk hanya sekadar memasuki hutan melalui peng...

Indonesia Mountain Society

mountain: history - landscape - culture The origin of Indonesia, besides it is identical with the term “Nusantara” which means the unity of regions consisting of islands, Indonesia –from long time ago—is also known with the concept of “Nusakendeng”. The concept of “Nusantara” or “archipelago” shows the attachment of Indonesian with water, or sea. Meanwhile, “Nusakendeng” which means the unity of regions consisting of the clusters of mountain, shows the attachment of Indonesian with mountain. This fact shows that since thousand years ago, Indonesian people from the east to the west, the north to the south, are living close to the mountain. The modest thing from Indonesian people’s culture which is identical to the mountains is the way of live in which giving honor of the mountain, land, forest, until tp the unity of biodiversity within. Thus, the way of live of Indonesian people is the way which is in harmony with nature, harmonic, maintaining the balance, and conservative...