Langsung ke konten utama

#NulisGunung Sebagai Ruang Produksi Pengetahuan


Gunung selalu hadir sebagai lanskap yang memukau. Siluetnya mengisi cakrawala, punggungnya menahan awan, dan tubuhnya menyimpan mata air yang menghidupi sawah hingga kota. Namun dalam beberapa dekade terakhir, cara kita memandang gunung berubah drastis. Ia tak lagi sekadar ruang hidup, melainkan ruang produksi. Ia menjadi komoditas: tambang, proyek energi, destinasi wisata massal, atau sekadar latar foto yang dibagikan tanpa jejak refleksi.

Di tengah arus pembangunan yang kerap eksploitatif, kerusakan ekologis gunung bukan lagi kemungkinan, melainkan kenyataan. Deforestasi, alih fungsi lahan, ekspansi pertambangan, dan beban wisata berlebih memperlihatkan satu hal: relasi kita dengan gunung kian menjauh dari etika, semakin dekat pada kepentingan ekonomi jangka pendek.

Padahal dalam kosmologi Nusantara, gunung tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah pusat orientasi hidup. Dalam berbagai tradisi lokal, gunung dipandang sebagai ruang sakral, kebuyutan, sumber pengetahuan, dan hulu kehidupan. Dari sanalah air mengalir, dari sanalah kesuburan bermula, dari sanalah tata nilai dibentuk.

Krisis ekologis hari ini bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga krisis pengetahuan dan cara pandang. Kita kehilangan kemampuan untuk membaca gunung sebagai subjek.

Gunung Sebagai Ruang Pengetahuan

Di banyak komunitas adat dan masyarakat lereng, pengetahuan tentang gunung diwariskan secara turun-temurun. Ia tidak selalu tertulis dalam buku ilmiah, tetapi hidup dalam praktik keseharian: penentuan waktu tanam, pembagian kawasan hutan, aturan tak tertulis tentang wilayah yang tak boleh diganggu, hingga ritual yang menandai hubungan manusia dan alam.

Pengetahuan ini lahir dari pengalaman panjang berinteraksi dengan lanskap. Ia bersifat ekologis sekaligus spiritual. Ia mengajarkan batas.

Namun modernitas cenderung meminggirkan pengetahuan semacam ini. Logika pembangunan sering kali lebih percaya pada data kuantitatif dan perhitungan ekonomi dibanding pada ingatan kolektif masyarakat. Hutan dinilai berdasarkan volume kayu, gunung dihitung berdasarkan cadangan mineral, dan mata air dipetakan sebagai potensi komersial.

Di sinilah jarak itu semakin terasa: antara pengetahuan lokal yang hidup dan sistem kebijakan yang formal. Ketika pengetahuan lokal tidak lagi dianggap relevan, kita kehilangan salah satu fondasi etika lingkungan. Kita menjadi bangsa yang asing terhadap hulunya sendiri.

Dokumentasi Kelas #NulisGunung

Menulis sebagai Tindakan Ekologis

Dalam situasi inilah, menulis menjadi penting—bahkan mendesak.

Menulis bukan sekadar aktivitas literasi. Ia adalah tindakan ekologis. Dengan menulis, seseorang memperlambat cara pandangnya. Ia mengamati, merekam, dan merefleksikan. Ia tidak hanya melihat keindahan, tetapi juga membaca tanda-tanda perubahan: mata air yang menyusut, lereng yang rawan longsor, hutan yang mulai terfragmentasi, atau konflik ruang yang membayangi warga.

Tulisan menjadi arsip ingatan ekologis.

Tanpa arsip, kerusakan mudah dilupakan. Tanpa dokumentasi, pengetahuan mudah dipinggirkan. Tanpa narasi, kebijakan sering berjalan tanpa suara masyarakat.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi lahirnya program Nulis Gunung, sebuah program kerja Yayasan Masyarakat Gunung Indonesia yang dilaksanakan oleh Gunung Institute. Program ini bukan sekadar pelatihan menulis, tetapi ruang produksi pengetahuan yang berangkat dari pengalaman langsung masyarakat dan pegiat gunung.

Dokumentasi Kelas #NulisGunung

Nulis Gunung mengajak peserta untuk mendekati gunung bukan hanya sebagai destinasi, melainkan sebagai subjek yang memiliki sejarah, nilai, dan persoalan. Melalui proses observasi, diskusi, riset lapangan, hingga penulisan reflektif, peserta diajak memahami bahwa setiap lanskap menyimpan cerita yang layak dicatat.

Dalam konteks krisis iklim dan degradasi lingkungan yang semakin kompleks, ruang-ruang seperti ini menjadi penting. Ia menghadirkan pendekatan partisipatif dalam produksi pengetahuan—di mana masyarakat tidak lagi hanya menjadi objek penelitian, melainkan subjek yang menulis dan bersuara.

Melampaui Romantisme Pendakian

Budaya populer telah membentuk citra gunung sebagai ruang petualangan dan “healing”. Pendakian menjadi tren, unggahan media sosial menampilkan panorama matahari terbit, dan narasi kebebasan personal mendominasi.

Tidak ada yang salah dengan menikmati keindahan alam. Namun ketika gunung hanya dipahami sebagai ruang rekreasi, kita berisiko mengabaikan kompleksitas ekologis dan sosial di baliknya. Kita lupa bahwa di balik jalur pendakian yang tertata, ada ekosistem rapuh yang perlu dijaga. Di balik panorama indah, ada masyarakat yang hidup dan menggantungkan penghidupannya pada lanskap tersebut.

Nulis Gunung berupaya melampaui romantisme estetika itu. Ia mendorong lahirnya tulisan-tulisan yang tidak hanya memuji keindahan, tetapi juga mengkritisi kebijakan, mengangkat suara warga, dan mengurai relasi kuasa dalam pengelolaan sumber daya.

Tulisan-tulisan yang lahir dari program ini diharapkan tidak berhenti sebagai catatan personal, tetapi menjadi wacana publik. Ia bisa menjadi opini, esai mendalam, atau laporan reflektif yang memperkaya diskursus tentang tata kelola lingkungan di kawasan pegunungan.

Karena perubahan tidak selalu dimulai dari aksi besar. Ia bisa dimulai dari narasi yang mengubah cara pandang.

Pengetahuan yang Demokratis

Salah satu persoalan mendasar dalam isu lingkungan adalah ketimpangan produksi pengetahuan. Siapa yang berhak berbicara tentang gunung? Siapa yang menentukan kebijakan? Siapa yang suaranya didengar?

Sering kali, masyarakat lokal yang paling terdampak justru berada di posisi paling lemah dalam ruang pengambilan keputusan. Pengetahuan mereka dianggap informal, subjektif, atau kurang ilmiah.

Padahal pengalaman hidup adalah sumber pengetahuan yang sah.

Melalui Nulis Gunung, Yayasan Masyarakat Gunung Indonesia dan Gunung Institute berupaya membuka ruang yang lebih demokratis. Peserta dari berbagai latar—warga lereng, pegiat lingkungan, penulis muda, mahasiswa, hingga peneliti—dipertemukan dalam satu ruang dialog.

Di sana, pengetahuan tidak berjalan satu arah. Ia dipertukarkan.

Proses ini penting, bukan hanya untuk memperkaya perspektif, tetapi juga untuk membangun solidaritas ekologis. Ketika seseorang menulis tentang sumber air di desanya yang terancam, ia tidak hanya menyuarakan kegelisahan pribadi, tetapi juga menghubungkan pembaca dengan realitas di hulu.

Gunung menjadi isu bersama.

Menulis sebagai Upaya Merawat Masa Depan

Gunung adalah hulu. Apa yang terjadi di gunung akan menentukan apa yang terjadi di hilir. Air yang bersih, tanah yang subur, dan iklim mikro yang stabil bergantung pada keberlanjutan ekosistem pegunungan.

Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan dengan banyak kawasan vulkanik aktif, peran gunung semakin strategis. Ia bukan hanya bentang alam, tetapi sistem penyangga kehidupan.

Ketika gunung rusak, dampaknya tidak berhenti di lereng. Ia mengalir ke kota, ke sawah, ke rumah-rumah kita.

Karena itu, merawat gunung adalah merawat masa depan.

Menulis mungkin tampak sederhana dibanding menanam pohon atau melakukan advokasi kebijakan. Namun tulisan memiliki daya jangkau yang panjang. Ia bisa melintasi batas geografis, generasi, dan kelas sosial. Ia bisa mempengaruhi opini, membentuk kesadaran, bahkan mendorong perubahan kebijakan.


Dokumentasi Kelas #NulisGunung

Di tengah banjir informasi digital, tulisan yang lahir dari refleksi mendalam menjadi penyeimbang. Ia mengajak pembaca berhenti sejenak, berpikir ulang, dan mempertanyakan cara kita memandang alam.

Nulis Gunung hadir sebagai salah satu upaya merawat kesadaran itu. Ia adalah ruang belajar, ruang berbagi, sekaligus ruang perlawanan kultural terhadap cara pandang eksploitatif.

Sebab pada akhirnya, krisis ekologis bukan hanya soal teknologi atau regulasi. Ia soal etika. Soal bagaimana kita memposisikan diri dalam jejaring kehidupan.

Menulis tentang gunung berarti menulis tentang relasi. Relasi antara manusia dan alam, antara pembangunan dan keberlanjutan, antara ingatan dan masa depan.

Dan mungkin, di tengah berbagai keterbatasan, menulis adalah salah satu cara paling sunyi.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA YANG HARUS/BISA KITA LAKUKAN UNTUK GUNUNG

Dalam posting “apa dan siapa gunung”, @gununginstitut memaparkan rangkuman definisi serta konsep perihal gunung, baik secara morfologis (bentuk), ekologis (lingkungan), hingga filosofis (sebagai sesama makhluk tuhan). Simpulan yang dapat diambil dari pemaparan di posting pertama adalah betapa pentingnya keberadaan dan kelestarian gunung bagi manusia dan totalitas alam lainnya di bumi. Kebudayaan di nusantara umumnya dan Sunda khususnya memandang gunung sebagai suatu hal yang “sakral", pandangan tersebut membawa gunung pada kondisi yang sangat dihargai, dirawat, dan diagungkan. Sakralitas gunung dilandasi dari pengetahuan masyarakat yang menganggap gunung sebagai bagian dari kehidupan yang sama-sama memiliki hak sebagaimana manusia. Maka dari itu, masyarakat Sunda khususnya Baduy (misalnya), mengenal pengetahuan tentang hak alam berupa leuweung larang , di mana manusia dibatasi dalam pemanfaatan dan bahkan terlarang untuk hanya sekadar memasuki hutan melalui peng...

Gunung dalam Bingkai Kebudayaan

Dalam pandangan masyarakat Sunda, alam bukan sekadar ruang hidup, tetapi ruang suci tempat manusia menempuh jalan kesadaran. Gunung, hutan, dan sungai adalah poros kosmos, tempat manusia belajar menakar diri, menyatu dengan ritme semesta, dan menegakkan keseimbangan batin. Dalam naskah Amanat Galunggung, ajaran Patanjala disebut sebagai dasar kasampurnaan hirup : kesempurnaan hidup yang hanya mungkin tercapai bila manusia selaras dengan alam dan Hyang. Dalam naskah Amanat Galunggung tertulis: “ Hirup kudu nyaluyukeun jeung jagat, ulah ngalanggar kana tatanan buana .” — Amanat Galunggung (abad ke-15) Ungkapan ini menunjukkan bahwa manusia tidak hidup di atas alam, tetapi di dalamnya. Patanjala mengajarkan keseimbangan yang membentuk tubuh manusia sekaligus tubuh jagat. Merusak satu unsur berarti merusak diri sendiri. Etika Patanjala bukan dogma, melainkan laku spiritual yang berpijak pada kesadaran ekologis. Menebang pohon tanpa doa, mencemari air tanpa rasa bersalah, atau menaklukkan g...