Di tengah arus pembangunan yang kerap eksploitatif, kerusakan ekologis
gunung bukan lagi kemungkinan, melainkan kenyataan. Deforestasi, alih fungsi
lahan, ekspansi pertambangan, dan beban wisata berlebih memperlihatkan satu
hal: relasi kita dengan gunung kian menjauh dari etika, semakin dekat pada
kepentingan ekonomi jangka pendek.
Padahal dalam kosmologi Nusantara, gunung tidak pernah diposisikan
sebagai objek mati. Ia adalah pusat orientasi hidup. Dalam berbagai tradisi
lokal, gunung dipandang sebagai ruang sakral, kebuyutan, sumber pengetahuan,
dan hulu kehidupan. Dari sanalah air mengalir, dari sanalah kesuburan bermula,
dari sanalah tata nilai dibentuk.
Krisis ekologis hari ini bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga
krisis pengetahuan dan cara pandang. Kita kehilangan kemampuan untuk membaca
gunung sebagai subjek.
Gunung Sebagai Ruang Pengetahuan
Di
banyak komunitas adat dan masyarakat lereng, pengetahuan tentang gunung
diwariskan secara turun-temurun. Ia tidak selalu tertulis dalam buku ilmiah,
tetapi hidup dalam praktik keseharian: penentuan waktu tanam, pembagian kawasan
hutan, aturan tak tertulis tentang wilayah yang tak boleh diganggu, hingga
ritual yang menandai hubungan manusia dan alam.
Pengetahuan
ini lahir dari pengalaman panjang berinteraksi dengan lanskap. Ia bersifat
ekologis sekaligus spiritual. Ia mengajarkan batas.
Namun
modernitas cenderung meminggirkan pengetahuan semacam ini. Logika pembangunan
sering kali lebih percaya pada data kuantitatif dan perhitungan ekonomi
dibanding pada ingatan kolektif masyarakat. Hutan dinilai berdasarkan volume
kayu, gunung dihitung berdasarkan cadangan mineral, dan mata air dipetakan
sebagai potensi komersial.
Di
sinilah jarak itu semakin terasa: antara pengetahuan lokal yang hidup dan
sistem kebijakan yang formal. Ketika pengetahuan lokal tidak lagi dianggap
relevan, kita kehilangan salah satu fondasi etika lingkungan. Kita menjadi
bangsa yang asing terhadap hulunya sendiri.
Menulis sebagai Tindakan Ekologis
Dalam
situasi inilah, menulis menjadi penting—bahkan mendesak.
Menulis
bukan sekadar aktivitas literasi. Ia adalah tindakan ekologis. Dengan menulis,
seseorang memperlambat cara pandangnya. Ia mengamati, merekam, dan
merefleksikan. Ia tidak hanya melihat keindahan, tetapi juga membaca
tanda-tanda perubahan: mata air yang menyusut, lereng yang rawan longsor, hutan
yang mulai terfragmentasi, atau konflik ruang yang membayangi warga.
Tulisan
menjadi arsip ingatan ekologis.
Tanpa
arsip, kerusakan mudah dilupakan. Tanpa dokumentasi, pengetahuan mudah
dipinggirkan. Tanpa narasi, kebijakan sering berjalan tanpa suara masyarakat.
Kesadaran
inilah yang melatarbelakangi lahirnya program Nulis Gunung, sebuah
program kerja Yayasan Masyarakat Gunung Indonesia yang dilaksanakan oleh Gunung
Institute. Program ini bukan sekadar pelatihan menulis, tetapi ruang produksi
pengetahuan yang berangkat dari pengalaman langsung masyarakat dan pegiat
gunung.
Nulis
Gunung mengajak peserta untuk mendekati gunung bukan hanya sebagai destinasi,
melainkan sebagai subjek yang memiliki sejarah, nilai, dan persoalan. Melalui
proses observasi, diskusi, riset lapangan, hingga penulisan reflektif, peserta
diajak memahami bahwa setiap lanskap menyimpan cerita yang layak dicatat.
Dalam
konteks krisis iklim dan degradasi lingkungan yang semakin kompleks,
ruang-ruang seperti ini menjadi penting. Ia menghadirkan pendekatan
partisipatif dalam produksi pengetahuan—di mana masyarakat tidak lagi hanya
menjadi objek penelitian, melainkan subjek yang menulis dan bersuara.
Melampaui Romantisme Pendakian
Budaya
populer telah membentuk citra gunung sebagai ruang petualangan dan “healing”.
Pendakian menjadi tren, unggahan media sosial menampilkan panorama matahari
terbit, dan narasi kebebasan personal mendominasi.
Tidak
ada yang salah dengan menikmati keindahan alam. Namun ketika gunung hanya
dipahami sebagai ruang rekreasi, kita berisiko mengabaikan kompleksitas
ekologis dan sosial di baliknya. Kita lupa bahwa di balik jalur pendakian yang
tertata, ada ekosistem rapuh yang perlu dijaga. Di balik panorama indah, ada
masyarakat yang hidup dan menggantungkan penghidupannya pada lanskap tersebut.
Nulis
Gunung berupaya melampaui romantisme estetika itu. Ia mendorong lahirnya
tulisan-tulisan yang tidak hanya memuji keindahan, tetapi juga mengkritisi
kebijakan, mengangkat suara warga, dan mengurai relasi kuasa dalam pengelolaan
sumber daya.
Tulisan-tulisan
yang lahir dari program ini diharapkan tidak berhenti sebagai catatan personal,
tetapi menjadi wacana publik. Ia bisa menjadi opini, esai mendalam, atau
laporan reflektif yang memperkaya diskursus tentang tata kelola lingkungan di
kawasan pegunungan.
Karena
perubahan tidak selalu dimulai dari aksi besar. Ia bisa dimulai dari narasi
yang mengubah cara pandang.
Pengetahuan yang Demokratis
Salah
satu persoalan mendasar dalam isu lingkungan adalah ketimpangan produksi
pengetahuan. Siapa yang berhak berbicara tentang gunung? Siapa yang menentukan
kebijakan? Siapa yang suaranya didengar?
Sering
kali, masyarakat lokal yang paling terdampak justru berada di posisi paling
lemah dalam ruang pengambilan keputusan. Pengetahuan mereka dianggap informal,
subjektif, atau kurang ilmiah.
Padahal
pengalaman hidup adalah sumber pengetahuan yang sah.
Melalui
Nulis Gunung, Yayasan Masyarakat Gunung Indonesia dan Gunung Institute berupaya
membuka ruang yang lebih demokratis. Peserta dari berbagai latar—warga lereng,
pegiat lingkungan, penulis muda, mahasiswa, hingga peneliti—dipertemukan dalam
satu ruang dialog.
Di
sana, pengetahuan tidak berjalan satu arah. Ia dipertukarkan.
Proses
ini penting, bukan hanya untuk memperkaya perspektif, tetapi juga untuk
membangun solidaritas ekologis. Ketika seseorang menulis tentang sumber air di
desanya yang terancam, ia tidak hanya menyuarakan kegelisahan pribadi, tetapi
juga menghubungkan pembaca dengan realitas di hulu.
Gunung
menjadi isu bersama.
Menulis sebagai Upaya Merawat Masa Depan
Gunung adalah hulu. Apa yang terjadi di gunung akan menentukan apa yang
terjadi di hilir. Air yang bersih, tanah yang subur, dan iklim mikro yang
stabil bergantung pada keberlanjutan ekosistem pegunungan.
Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan dengan banyak kawasan
vulkanik aktif, peran gunung semakin strategis. Ia bukan hanya bentang alam,
tetapi sistem penyangga kehidupan.
Ketika gunung rusak, dampaknya tidak berhenti di lereng. Ia mengalir ke kota, ke sawah, ke rumah-rumah kita.
Karena itu, merawat gunung adalah merawat masa depan.
Menulis mungkin tampak sederhana dibanding menanam pohon atau melakukan
advokasi kebijakan. Namun tulisan memiliki daya jangkau yang panjang. Ia bisa
melintasi batas geografis, generasi, dan kelas sosial. Ia bisa mempengaruhi
opini, membentuk kesadaran, bahkan mendorong perubahan kebijakan.
Di tengah banjir informasi digital, tulisan yang lahir dari refleksi
mendalam menjadi penyeimbang. Ia mengajak pembaca berhenti sejenak, berpikir
ulang, dan mempertanyakan cara kita memandang alam.
Nulis Gunung hadir sebagai salah satu upaya merawat kesadaran itu. Ia
adalah ruang belajar, ruang berbagi, sekaligus ruang perlawanan kultural
terhadap cara pandang eksploitatif.
Sebab pada akhirnya, krisis ekologis bukan hanya soal teknologi atau
regulasi. Ia soal etika. Soal bagaimana kita memposisikan diri dalam jejaring
kehidupan.
Menulis tentang gunung berarti menulis tentang relasi. Relasi antara
manusia dan alam, antara pembangunan dan keberlanjutan, antara ingatan dan masa
depan.




Komentar
Posting Komentar